Bro Cerdas

Membangun Perspektif Baru Dalam Industri Forex

Post Page Advertisement [Top]

 


Tak hanya trader pemula yang bisa "game over" dalam trading. Trader yang sudah berpengalaman pun tak luput dari pengalaman itu. Penyebabnya seringkali datang dari faktor psikologis trader itu sendiri. Setidaknya ada 5 penyebab paling mematikan dalam trading forex yaitu;


1. Overconfidence (terlalu percaya diri)


Overconfidence dalam trading adalah kecenderungan untuk merasa terlalu yakin atau percaya diri dalam kemampuan trading seseorang. Ini seringkali terjadi ketika seorang trader telah mengalami beberapa kesuksesan awal atau ketika mereka merasa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pasar daripada yang sebenarnya. Overconfidence bisa menjadi masalah serius karena bisa menyebabkan pengambilan risiko yang tidak perlu atau membuat keputusan trading yang buruk.


Berikut adalah beberapa contoh perilaku yang mungkin terkait dengan overconfidence dalam trading:


1. Menambahkan ukuran posisi: Seorang trader yang terlalu percaya diri mungkin cenderung untuk menambahkan ukuran posisi mereka dengan asumsi bahwa mereka akan terus menghasilkan keuntungan.


2. Mengabaikan manajemen risiko: Seorang trader yang overconfident mungkin mengabaikan prinsip manajemen risiko yang penting, seperti menetapkan stop loss atau menetapkan batasan risiko yang sesuai.


3. Tidak melakukan analisis dengan cermat: Seorang trader yang merasa terlalu yakin mungkin mengabaikan analisis yang cermat terhadap pasar atau aset yang mereka tradingkan, karena mereka yakin bahwa mereka tahu apa yang terbaik.


4. Tidak memperhitungkan kemungkinan kerugian: Overconfidence bisa membuat seseorang kurang memperhitungkan kemungkinan kerugian atau risiko dalam trading mereka.


Cara mengatasi overconfidence dalam trading:


1. Disiplin diri: Penting untuk tetap disiplin dan mengikuti rencana trading yang telah ditetapkan. Hal ini termasuk mengikuti strategi trading, menetapkan target keuntungan dan stop loss, serta mematuhi batasan risiko yang telah ditetapkan.


2. Evaluasi diri secara objektif: Seorang trader harus secara objektif mengevaluasi kinerja trading mereka, tanpa terpengaruh oleh emosi atau ego. Ini bisa melibatkan pencatatan setiap trading yang dilakukan dan menganalisis hasilnya dengan cermat.


3. Tetap rendah hati: Mengakui bahwa tidak ada yang tahu segalanya tentang pasar dan bahwa kerugian adalah bagian dari proses trading dapat membantu mengurangi tingkat overconfidence.


4. Belajar terus-menerus: Terus belajar dan meningkatkan pemahaman tentang pasar dan strategi trading dapat membantu mengurangi overconfidence.


5. Gunakan trading plan yang teruji: Membuat rencana trading yang jelas dan mengikuti rencana tersebut dengan disiplin dapat membantu mengurangi kesempatan untuk terlalu percaya diri.


6. Gunakan kontrol diri dan manajemen risiko yang tepat: Tetapkan aturan trading yang jelas dan patuhi mereka dengan ketat. Ini termasuk menetapkan stop loss dan batasan risiko yang tepat untuk setiap trading, serta menghindari mengambil risiko yang tidak perlu.


Dengan mengikuti langkah-langkah ini, seorang trader dapat mengurangi risiko overconfidence dan meningkatkan kemungkinan kesuksesan dalam trading.


2. Overtrade


Overtrading terjadi ketika seorang trader melakukan terlalu banyak perdagangan dalam waktu yang singkat, melebihi batas toleransi risiko dan kemampuan analisisnya. Ini seringkali disebabkan oleh impuls atau dorongan untuk terus berada di pasar dan berpartisipasi dalam aktivitas trading, meskipun tidak ada sinyal yang kuat atau valid untuk melakukannya. Overtrading dapat menyebabkan beberapa masalah, termasuk kerugian finansial, kelelahan mental, dan menurunkan kepercayaan diri.


Berikut adalah beberapa tanda dan penyebab overtrading:


1. Perdagangan berlebihan: Seorang trader melakukan terlalu banyak perdagangan dalam satu sesi trading atau dalam rentang waktu yang pendek.


2. Tidak ada sinyal yang jelas: Trader melakukan perdagangan tanpa adanya sinyal yang jelas dari sistem atau strategi trading mereka. Mereka mungkin memasuki perdagangan berdasarkan emosi atau spekulasi semata.


3. Pengaruh emosi: Overtrading seringkali dipicu oleh emosi seperti keserakahan, kecemasan, atau keinginan untuk memulihkan kerugian yang baru saja dialami.


4. Mengabaikan manajemen risiko: Trader mungkin mengabaikan aturan manajemen risiko yang penting, seperti menetapkan stop loss atau menetapkan batasan risiko yang sesuai untuk setiap perdagangan.


5. Kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan: Trader mungkin memiliki ekspektasi yang tidak realistis tentang keuntungan yang dapat mereka peroleh dari pasar, dan mereka terus melakukan perdagangan dengan harapan menghasilkan keuntungan besar dalam waktu singkat.


Dampak overtrading dapat menjadi serius, termasuk:


- Kerugian finansial: Overtrading dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan karena trader melakukan perdagangan tanpa memperhitungkan risiko secara cermat.

- Stres mental: Kesalahan trading dan kerugian yang dialami akibat overtrading dapat menyebabkan stres mental yang tinggi, mengganggu kesejahteraan psikologis trader.

- Penurunan kinerja: Overtrading dapat mengganggu fokus dan konsentrasi trader, yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan kinerja trading mereka.

- Kurangnya kepercayaan diri: Pengalaman kerugian berulang akibat overtrading dapat mengurangi kepercayaan diri trader dan membuat mereka ragu-ragu dalam mengambil keputusan trading di masa depan.


Untuk menghindari overtrading, trader perlu:


1. Mengembangkan rencana trading yang jelas:*Tentukan strategi trading yang tepat dan tetap patuhi rencana tersebut.

2. Menetapkan aturan manajemen risiko: Tetapkan batasan risiko yang jelas untuk setiap perdagangan dan patuhi aturan manajemen risiko yang telah ditetapkan.

3. Mengendalikan emosi: Pelajari untuk mengenali emosi trading seperti keserakahan dan ketakutan, dan temukan cara untuk mengendalikannya.

4. Mengikuti disiplin diri: Disiplin adalah kunci untuk menghindari overtrading. Tetapkan aturan untuk diri sendiri dan patuhi mereka dengan ketat.

5. Meningkatkan pemahaman tentang pasar: Pelajari lebih lanjut tentang pasar dan instrumen trading yang Anda perdagangkan, sehingga Anda dapat membuat keputusan trading yang lebih cerdas dan berdasarkan analisis yang lebih baik.


3. Overleverage


Over leverage terjadi ketika seorang trader menggunakan terlalu banyak leverage, yaitu meminjam dana dari broker untuk meningkatkan ukuran posisi mereka di pasar. Leverage dapat bermanfaat bagi seorang trader untuk mengambil posisi yang jauh lebih besar daripada modal yang dimiliki dapat menambah potensi keuntungan, itu juga dapat menambah potensi kerugian.


Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipahami tentang over leverage:


1. Ketergantungan pada pinjaman: Over leverage terjadi ketika seorang trader menggunakan leverage yang berlebihan, sering kali melebihi kemampuan mereka untuk mengendalikan risiko. Mereka mungkin mengambil posisi yang sangat besar dalam ukuran, dan setiap pergerakan kecil dalam pasar dapat memiliki dampak yang signifikan pada akun trading mereka.


2. Resiko yang lebih tinggi: Semakin tinggi leverage yang digunakan, semakin besar risiko yang dihadapi trader. Dengan leverage yang tinggi, bahkan perubahan kecil dalam harga dapat menyebabkan kerugian besar atau bahkan margin call, di mana broker menutup posisi trader karena modal tidak lagi cukup untuk menopangnya.


3. Ketidakseimbangan risiko dan reward: Over leverage seringkali terjadi ketika trader terlalu terpaku pada potensi keuntungan yang besar tanpa memperhitungkan risiko yang terlibat. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa risiko kerugian besar juga meningkat seiring dengan penggunaan leverage yang tinggi.


4. Keterbatasan modal: Trader harus memahami bahwa leverage yang tinggi memperbesar potensi keuntungan dan kerugian. Jika perdagangan bergerak melawan mereka, mereka dapat kehilangan sebagian besar atau bahkan seluruh modal mereka dengan cepat, terutama jika mereka menggunakan leverage yang signifikan.


5. Manajemen risiko yang buruk: Over leverage sering kali terkait dengan manajemen risiko yang buruk. Trader mungkin tidak memasang stop loss yang cukup luas atau tidak memperhitungkan dengan cermat ukuran posisi mereka relatif terhadap akun trading mereka.


Untuk menghindari over leverage, trader perlu:


- Memahami leverage: Penting untuk sepenuhnya memahami bagaimana leverage berfungsi dan potensi risiko yang terkait dengannya sebelum menggunakan leverage dalam trading.

- Menetapkan batasan leverage: Tentukan batasan maksimum leverage yang sesuai dengan profil risiko Anda dan tetap patuhi batasan tersebut.

- Manajemen risiko yang baik: Gunakan manajemen risiko yang baik, termasuk menetapkan stop loss yang ketat dan tidak mengambil risiko lebih dari yang Anda mampu untuk kehilangan.

- Menggunakan leverage secara bijaksana: Hanya gunakan leverage yang sesuai dengan strategi trading Anda dan hindari menggunakan leverage yang berlebihan demi mendapatkan keuntungan cepat. Leverage harus menjadi alat yang membantu, bukan menghancurkan akun trading Anda.


4. Overexposure


Overexposure dalam trading terjadi ketika seorang trader memiliki terlalu banyak posisi terbuka dalam satu waktu, atau terlalu banyak terpapar pada satu aset atau instrumen keuangan tertentu. Ini dapat terjadi dalam berbagai cara:


1. Terlalu banyak posisi terbuka: Seorang trader mungkin membuka terlalu banyak posisi trading dalam satu waktu, sehingga mereka tidak dapat mengelola setiap posisi dengan efektif. Ini dapat menyebabkan penyebaran terlalu tipis dari fokus dan perhatian trader, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko kesalahan dan kerugian.


2. Terlalu banyak terpapar pada satu aset: Sebaliknya, seorang trader mungkin terlalu fokus pada satu aset atau instrumen keuangan tertentu, memasuki beberapa perdagangan yang terkait dengan aset tersebut secara bersamaan. Jika aset tersebut mengalami perubahan harga yang signifikan, hal ini dapat memiliki dampak besar pada portofolio trading trader.


3. Tidak cukup diverifikasi: Terlalu banyak terpapar pada satu aset atau instrumen keuangan tanpa diverifikasi dapat meningkatkan risiko. Trader yang tidak memiliki diversifikasi yang cukup dalam portofolio mereka dapat lebih rentan terhadap perubahan harga pasar atau berita yang memengaruhi aset tersebut.


Dampak dari overexposure dalam trading bisa menjadi berbahaya:


- Risiko yang tinggi: Overexposure meningkatkan risiko secara signifikan karena trader memiliki eksposur yang besar pada pasar atau aset tertentu. Jika pasar bergerak melawan posisi trader, kerugian potensialnya bisa sangat besar.


- Kerugian besar: Jika trader terlalu terpapar pada satu aset dan harga aset tersebut turun tajam, mereka bisa menghadapi kerugian besar dalam portofolio mereka.


- Stres dan kecemasan: Memiliki terlalu banyak posisi terbuka atau terlalu banyak terpapar pada satu aset dapat meningkatkan stres dan kecemasan trader. Mereka mungkin merasa tertekan untuk terus memantau pasar dan membuat keputusan trading yang cepat.


Untuk menghindari overexposure dalam trading, trader perlu:


- Diversifikasi portofolio: Pastikan portofolio trading Anda memiliki diversifikasi yang cukup, dengan menempatkan perdagangan di berbagai aset atau instrumen keuangan yang berbeda.


- Batasan risiko: Tetapkan batasan risiko yang jelas untuk portofolio Anda dan tetap patuhi batasan tersebut. Ini bisa termasuk menetapkan batasan pada jumlah modal yang diinvestasikan dalam satu aset atau instrumen keuangan tertentu.


- Manajemen risiko yang baik: Gunakan manajemen risiko yang baik, termasuk menetapkan stop loss yang tepat dan tidak mengambil risiko lebih dari yang Anda mampu untuk kehilangan.


- Evaluasi secara teratur: Evaluasi secara teratur portofolio trading Anda untuk memastikan bahwa Anda tidak terlalu terpapar pada satu aset atau instrumen keuangan tertentu, dan jika perlu, lakukan penyesuaian untuk mendiversifikasi portofolio Anda lebih lanjut.


5. Overriding Stop (mengubah level stop loss)


Overriding stop dalam trading forex terjadi ketika seorang trader mengabaikan atau membatalkan level stop loss yang telah ditetapkan sebelumnya untuk suatu posisi trading. Stop loss adalah perintah yang ditetapkan oleh trader untuk menutup posisi secara otomatis ketika harga mencapai tingkat tertentu yang telah ditentukan sebelumnya, dengan tujuan untuk melindungi modal trader dari kerugian yang lebih besar.


Berikut adalah beberapa alasan mengapa seorang trader mungkin melakukan overriding stop:


1. Harapan pasar berbalik: Ketika harga sedang bergerak melawan posisi trader, mereka mungkin merasa bahwa pasar akan berbalik arah dan posisi tersebut akan berubah menjadi menguntungkan. Sebagai hasilnya, mereka memutuskan untuk membatalkan stop loss agar posisi tetap terbuka.


2. Emosi yang mendominasi: Emosi seperti keserakahan atau ketakutan dapat mempengaruhi keputusan trading seseorang. Seorang trader mungkin takut akan kerugian yang terjadi jika stop loss dipicu, sehingga mereka memutuskan untuk membatalkan stop loss dengan harapan bahwa harga akan kembali bergerak sesuai dengan prediksi mereka.


3. Kesalahan dalam analisis: Terkadang, seorang trader mungkin merasa bahwa analisis mereka tentang pasar salah dan bahwa harga akan kembali bergerak sesuai dengan prediksi awal mereka. Sebagai hasilnya, mereka memutuskan untuk mengabaikan stop loss dengan harapan bahwa posisi trading akan berubah menjadi menguntungkan.


Overriding stop dapat berdampak negatif pada hasil trading seseorang. Berikut adalah beberapa dampak negatif dari overriding stop:


- Penambahan risiko: Dengan mengabaikan stop loss, seorang trader meningkatkan risiko kerugian yang lebih besar. Tanpa stop loss, posisi trading dapat terus bergerak melawan trader tanpa batasan, menyebabkan kerugian yang signifikan.


- Pengaruh emosi yang negatif: Overriding stop sering kali dipicu oleh emosi seperti keserakahan atau ketakutan, yang dapat mengganggu kemampuan seorang trader untuk membuat keputusan trading yang rasional dan berdasarkan analisis yang objektif.


- Mengganggu manajemen risiko: Stop loss adalah bagian penting dari manajemen risiko dalam trading. Dengan mengabaikan stop loss, seorang trader mengabaikan salah satu alat utama untuk melindungi modal mereka dari kerugian yang besar.


Untuk menghindari overriding stop dan menjaga manajemen risiko yang baik dalam trading forex, seorang trader perlu disiplin dalam mengikuti rencana trading mereka dan tidak terpengaruh oleh emosi saat mengambil keputusan trading. Penting untuk menghormati level stop loss yang telah ditetapkan sebelumnya dan mematuhi rencana manajemen risiko yang telah disusun.


No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]